Sejarah Berdirinya Masjid Besar NURULLAH

 

Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah SWT. Kita memohon pertolongan-Nya dan ampunan serta perlindungan-Nya dari segala keburukan dan kelemahan. Barangsiapa yang diberi hidayah-NYA, tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi, dan barangsiapa yang tidak mendapat hidayah, tidak ada sesuatu pula yang mampu menolongnya. Subhanallahi walhamdulillahi walaa ilaha illallah wallahu akbar.

Sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah menyampaikan risalah-Nya, memberi nasehat dan membawa umat menuju kesempurnaan hidup lahir batin, dunia akhirat. Kita berharap termasuk umatnya yang mendapat syafa’at Beliau, nanti di Yaumil Akhir. Amin………….

Bersama ini kami sampaikan sejarah / beografi berdirinya Masjid Jami NURULLAH  ,dengan maksud  sebagai media untuk menjelaskan fungsi dan peranan Masjid Jami Nurullah  yang juga akan berfungsi sebagai pusat sarana Ibadah dan pembinaan keislaman di lingkungan masyarakat sekitar.

Tentunya kami berharap, partisipasi nyata berupa dukungan moril dan materil, sebagai salah satu waqaf, infaq dan sodaqah jariyah bagi Bapak dan Ibu. Kami berdo’a, semoga keikhlasan Bapak dan Ibu menjadi jalan menuju ketaqwaan dan Insya Allah Bapak dan Ibu termasuk golongan orang-orang yang sesuai dengan hadits Nabi yaitu: orang-orang yang akan dibangunkan sebuah istana di surganya Allah, karena telah membangun rumah Allah dimuka bumi ini. Amiin Yaa Rabbal’alamin.

 

LATAR BELAKANG

Berangkat dari sejarah Pondok Pesantren yang satu – satunya di lingkungan Tamansari kelurahan Tamanbaru Kabupaten Banyuwangi yaitu “PONPES DARUL IBTIDA’ “ sekitar tahun 1955 yang diasuh oleh Kyai Mansur b Bahar yakni Alumni PONPES TREMAS di Pacitan, PONPES LIRBOYO di Kediri,PONPES KH.KHOLIL Bangkalan, PONPES SIDOGIRI di Pasuruan, PONPES SONO di Sidoarjo,PONPES KALIWUNGU,PONPES KH. ABU AMAR di Kepatihan Banyuwangi,

PONPES KH. MASDUL di kauman Banyuwangi ,pada saat itu berdirilah ponpes tersebut yang ada di lingkungan Tamansari kelurahan Tamanbaru dengan kapasitas siswa 100 orang dari wilayah banyuwangi dan sekitarnya, maka daerah tersebut atau jalan tersebut pernah dijuluki Jalan Kyai Mansur lalu dirubah menjadi jalan Kopral Talab dan sekarang menjadi Jalan KH. Agus salim, dan dikarenakan pada saat itu terfokus daerah PONPES tersebut maka berdirilah Pertama Kali Masjid Nurullah untuk kebutuhan para santri dan warga sekitar.dengan di dukung segenap masyarakat setempat.

 

KRONOLOGIS

Adanya masjid tersebut maka pada tahun 1955 s/d 1980 dengan bersamanya PONPES DARUL IBTIDA’ dan warga sekitar maka berdirilah masjid pertama kali di lingkungan Tamansari yang dulunya kampungsari dan Kelurahan Tamanbaru yang dulunya Kelurahan Penganjuran dan diadakanya ketakmiran Masjid Nurullah.

Pada tahun 1980 Pengasuh meninggal dan dilanjutkan kepengurusan Takmir Masjid Nurullah.

Pada Tahun  1982 s/d 1985 yang diketua oleh seorang Dosen yaitu Bapak L. SUHARTONO, Bsc maka dengan sendirinya Pondok Pesantren tersebut lama kelamaan berkurang dari para santri yang mondok dan hilang dengan sendirinya ,namun sebagian tanah wakaf yang diwakafkan untuk masjid Nurullah seluas 550 M².

Pada Tahun  1982 s/d 1989  Pergantian Pengurus Takmir yang diketuai oleh Drs. MS. MUSTAM, Bsc. Seorang Pegawai Negri Sipil yang melanjutkan pendaftarkan Tanah tersebut menjadi Tanah Wakaf ke Kantor BPN Banyuwangi dengan Sertifkat  Hak Milik Nomor 2099 tahun 1989 dengan PPAIW Chaerudin Musthofa, BA Kepala Kantor Urusan Agama  yang dihadiri oleh para Nadzir yaitu 1.K.H. Suhaimi Jalal 2.Nuruddin , 3. Dasuki , BA 4. Kartiko 5. M. Toyiban DF 6. Abdul hamid 7. Achmad Nanik.

Pada tahun 1990 s/d 2004 pergantian Pengurus takmir   Masjid Nurulah yang diketuai oleh SANUSI  ALI  seorang guru Madrasah Aliyah Negeri Masjid Nurullah dan dibentuknya Koperasi Sejahtera pada waktu krisis Moneter dengan Pembelian Bahan Pokok Murah yang dipergunakan untuk Jama’ah dan Masyarakat seitar dan juga melaksanakan renovasi – renovasi Ruangan Masjid Nurullah tersebut.

Pada tahun 2005 s/d 2011 Pergantian pengurus takmir Masjid Nurulah berubah lagi yaitu diketua oleh DRS. H. IMAM MAHRUS, MM seorang PNS Guru atau kepala Sekolah  SDN Tamanbaru  kedudukan masjid masih yang dulunya Masjid Nurullah sekarang berubah menjadi Masjid Jami Nurullah dikarenakan masjid yang dulunya hanya bisa menampung jamaah 300 lebih sekarang sudah mencapai 500 jamaah .

Pada tahun 2012 s/d sekarang yang pengurusan Ketua Takmir diketua oleh seorang Pensiunan Pegawai Negri Sipil di Departemen Agama Kabupaten Banyuwangi Yaitu       

Drs. H. MISBAH AHMAD, MSi masjid Jami’ Nurullah mulai banyak perubahan dan juga bisa menampung ±1000 jamaah dan Alhamdulillah bisa  memperluas Tanah dengan Cara Pembelian tanah sebagian dari ahli waris Kyai Mansur  yang sebelah selatan yang dulunya didirikan sisa bangunan gudekan / tempat menginap para santri , Alhamdulillah bisa kita beli dan sudah di ikrar wakafkan ke Masjid Nurulloh dan diataranya Pembagunan rencana Tempat Pendidikan PAUD dan lainya , Tempat Perekonomian para Jamaah, Tempat singgah para Musafir  dan Tempat Klinik Kesehatan Jamaah  dengan Akta ikrar Wakaf nomor W.2/19/XII/2013 tertanggal 05 Desember 2013.

 

LANDASAN

1. Firman Allah SWT., dalam surat Al-Baqarah, Ayat 245

مَّن ذَا ٱلَّذِى يُقْرِضُ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَٰعِفَهُۥ لَهُۥٓ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَٱللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُۜطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (QS. Al-Baqarah 245)

2. Sabda Rasulullah SAW

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ  (رواه البخاري، رقم 450،  ومسلم، رقم 533، من حديث عثمان رضي الله عنه)

“Barangsiapa yang membangun masjid, maka Allah akan bangunkan baginya semisalnya di surga.” (HR. Bukhari, 450 dan Muslim, 533 dari Hadits Utsman radhiallahu’anhu)

Di jaman Rasullah SAW., masjid menjadi sarana untuk meperkokoh iman para sahabatnya. Disamping itu, masjid juga digunakan sebagai sarana peribadatan dan tempat mengkaji ajaran Islam. Allah Berfirman :

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At Taubah: 18)

Masjid mengajarkan kaum muslimin banyak hal. Dalam shalat berjamaah misalnya, banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil. Roh Jama’i dan kebersamaan, ketaatan kepada pemimpin, tujuan hidup yang satu, kesamaan langkah dan gerak dan masih banyak pelajaran lainnyabisa kita ambil dari tempat yang suci ini.

Kebersihan juga pelajaran penting yang bisa diambil dari dan semangat masjid. Berangkat ke masjid dalam keadaan berwudhu’ dan melepas alas kaki ketika memasuki masjid. Hal ini mengajarkan kepada setiap pribadi muslim untuk menjaga kebersihan. Setiap mereka harus memulai pekerjaan sehari-harinya dengan niat yang bersih.

Di era modern sekarang inikita harus memerankan dan memakmurkan masjid. Memakmurkan masjid mempunyai dua pengertian, Hissi dan Maknawi. Hissi berarti membangun masjid secara fisik, membersihkannya, melengkapi sara wudhu’ dan yang lainnya. Sedangkan membangun masjid secara Maknawi adalah meramaikan masjid dengan shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, i’tikaf dan ibadah lainnya. Dan yang tidak kalah penting adalah menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan dan pengembangan masyarakat.

Dan disamping itu kita harus bisa memposisikan masjid sebagai wadah pemersatu kaum muslimin. Menghidupkan kembali peranan masjid dengan segala macam aktivitas yang telah kita paparkan di atas dan telah terbukti membawa kaum muslim pada puncak peradaban besar. Wallahu A’lamu Bissawab.